Senin, 31 Desember 2012

Bukan Derita, tapi Replika Hidup

Bismillah..
Lama, yah sangat lama akumeninggalkan blog ini. Aku tak pedulikannya, karena aku sedang menyibukkan diriku ini dengan lingkunganku, bukan kehidupanku. Emmm, penuh warna dan air mata dalam menjalani apa yang ada di semester 5 ini. Begitu riweuh, begitu bingung dan begitu sesuatunya, karena semester ini benar-benar awal bagiku untuk mencapai mimpiku, PETANI SEJATI. Perjuangan dimulai hari ini dan akan terus berjalan sampai nanti, sampai aku menemukan sebuah pijakan hati.
Oke...Emosi kadang juga mulai meletup-letup kala tak ada satupun yang peduli. Sampai akupun berpikir, lebih baik gak ada kelompok daripada anggotanyapun gak guna. Hanya menuh-menuhin nama di cover depan laporan. Tak adil sebenarnya. Tapi, inilah realita. Mau aku hilangkan, tapi kasihan dia telah hampir 1 semester menjadi bagian dariku. Harus benar-benar menjadi orang bijak, dan menghilangkan sisi individualisku ini.
Pernah aku dimarahi oleh salah satu PJ data gara-gara lupa dan salah ngirim data. Padahal, niatnya aku mengirim data ekotan, tapi yang aku kirim malah data rancob. Emm..folder komputerkupun penuh dengan laporan. Entah berapa jumlahnya, akupun samapi kadang merasa muak karenanya. Kedua, aku dimarahi karena aku katanya salah format data. Padahal, aku sudah sesuai dengan penuntun praktikum. Tapi, apalah daya, sikap keras kepalaku ini membuat mereka tak berani mencemoohku lagi. Dan benar, aku menjadi PJ data hari Senin untuk Gulma. Data amburadul, gak jelas, gak sesuai dengan pengamatan, acak-acakan. Inikah yang namanya ketidak adilan??? 
Uwohh...kata kakak 'sing sabar yo dek, iki dadi berkahmu, emben digawe kok.'
Oke kak, terima kasih. Emm...semester ini juga tak akan aku sia-siakan untuk berkenalan dengan kawan baru dari Malaysia. Dia ada Kamal, Hazran, Wawi, Anwar, Hasan, Faiz dan Amir. Sahabat baru kayaknya. Ngobrol dengan mereka lebih terbuka, tak ada yang ditutup-tutupi. Emmm.. indahnya berbagi.
oh iya...tak lupa juga aku sebutkan teman-teman super dan maksimal dalam mengerjakan laporan. Jabar, Nabila, Ita, Mita, Kamal. Terima kasih telah membantuku semester ini. Oh iya,teman curhat Usi, Agung, Yoni. Really love you cause Allah.

Selasa, 11 Desember 2012

Mulai dari Topik

Uwooow...lama sekali aku tak posting, mungkin karena terpotong oleh UTS, ataupun mengerjakan laporan tiada henti ataupun kepanitiaan yang bikin riweuh. Okelah tak apa, dunia ini harus selalu berwarna kawan. Oh iya..akhir minggu alias weekend yang biasanya aku isi dengan menulis harus aku tinggalkan untuk mencari sesuap nasi ataupun mengikuti kompetisi-kompetisi di kampus. Yah, lumayanlah buat tambah uang jajan. 
Sedikit curhat sih, akhir- akhir ini kata temanku, aku terlalu cuek sama lingkungan sekitar. Aku udang tak terlihat lagi aktif seperti dulu. Mungkin itu semua karena aku cukup kecewa sama lingkungan itu. Bukan mengapa, merekapun lebih 'masa bodoh' ketimbang aku ini. Tapi, tak apalah sebagai pembelajaran lah, gantian dikit sama perananan ku. Hehehe.
Oh iya, kali ini aku terlalu galau buat topik skripsi. Tak terasa udah mahasiswa tingkat akhir. Penting banget nih menentukan gambaran apa yang akan kita lakukan nanti. Ada yang bilang aku cocok di gulma, ada yang bilang Biotek aja atau pemuliaan, namun sekarang ini aku lebih tertarik sama padi ataupun kedelai, yang notabene tanaman pangan. Bukan tanpa alasan, soalnya tanaman ini sedang digembor-gemborkan oleh pemerintah ataupun mahasiswa sekarang jarang yang mau panas-panasan. Tapi bagiku ini merupakan tantangan dan kesempatan buatku untuk menguji nyali ini di lahan. Huh, kata seorang dosen kalo sekarang ini banyak mahasiswa yang telah meninggalkan hal-hal dasar dan lebih memilih Hitech, padahal ini dasar banget lho dalam ilmu pertanian, apalagi pertanian konvensional. Bodo amat aku dibilang item atau apapun itu, yang penting sesuai passionku.
Alasan lain aku memilih tanama pangan adalah faktor dosen pembimbing yang insyaAllah luar biasa. Apalagi ditambah semangat seseorang yang dulunya mengambil topik yang sama dalam bidang tanaman pangan, komoditas kedelai. Beliau melaksanakan proyek dari Prof. Munif di Palembang. Dan sekarang beliau telah bekerja pula di bidang pertanian di daeah Sukabumi. Pas liat foto-fotonya sih ndeso banget, tapi demi masa depan kita. Hehehe. Semangat dan motivasinya tak terkalahkan. Tapi kata beliaupun dia masih kalah sama semangat orang tuaku. Emmm... Mau sebut nama takut gak enak, yang jelas dia angkatan 44, mantan asprak juga.
Lanjut, tanaman pangan mulai ditinggalkan oleh para petani. Mungkin lahannya yang sekarang berubah jadi perumahan, ruko, ataupun mall kali yah. Mereka juga malas karena input yang mereka keluarkan lebih besar dibanding output yang mereka dapatkan. Tak heran, banyak dari mereka yang memilih untuk menjual tanahnya dan membangun usaha lain di luar bidang pertanian. Sayang sekali, peranan pemerintah juga tidak sangat berarti bagi petani. Mereka hanya bisa membuat kebijakan yang kadang-kadang menguntungkan pihak swasta yang dalam hal ini orang kaya. Semoga, orang-orang di lembaga Pertanian adalah orang-orang yang mengerti pertanian.

Sabtu, 13 Oktober 2012

On September

My big family
Logo BANGTAN
my picture
kultur
cute ^^
kampanye buah dan sayur lokal

my sweet family

Kamis, 04 Oktober 2012

Dia itu AJI

Assalamualaykum...
Aji 
ehm...Kali ini, saya akan bercerita tentang temanku dari SMP sampai SMA. Dia bernama Aji, lengkapnya Aji Setayawan. Aku ingat sekali saat aku daftar di salah satu SMP favorit di kotaku. Aku melihat seorang laki-laki kecil, sendiri tanpa didampingi orang tua. Dia berdiri bersandar di kayu, penopang kelas IX E. Aku kira dia anak seorang guru yang masih berusia 6-7 tahun saat itu. Saat pembagian kelas, ternyata sesosok lelaki itu adalah siswa baru. Dia terlihat sendiri dan minder. duduk paling depan dengan tas ransel besar yang masih digendong di punggungnya.
Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat untuk saling mengenal dengan teman-teman satu kelas saat SMP. Saat kelas 1, dia pernah mengeluhkan keadaan matanya. Dia sulit melihat tulisan di papan tulis, hingga akhirnya dia selalu duduk paling depan. Aji tidak berani meminta dibelikan sebuah kacamata, karena ayahnya hayalah seorang penjaga sekolah dan ibunya seorang penjual nasi di pasar, dekat rumahnya. Sedih, saat mendengar cerita itu dan hingga akhirnya, kami satu kelas menyisihkan sebagian uang jajan untuk dibelikan sebuah kacamata untuk Aji. Bukanlah minus yang kecil, ternyata dia minus 5 baik mata kanan ataupun kirinya. Kacamata baru, semangat baru, tuturnya kala itu.
Saat kelas 2 SMP, aku juga sering sekelompok dengan Aji. Pernah aku sekelompok dalam pembuatan laporan karya ilmiah. Bekerja sama dengan Aji itu sangat menyenangkan. Dia rame, pinter dan kritis. Selain itu, aku juga pernah sekelompok olahraga dengan Aji. Pernah aku berkunjung ke rumahnya untuk membuat laporan olahraga. Rumahnya tak jauh dari pasar, sebuah gang kecil di belakang sebuah rumah mewah, milik juragan kelapa. Aku heran saat kesana. Tak hanya dia yang fisiknya kecil, tetapi adiknya pun demikian. Aku mulai memberanika diri bertanya padanya. Namun dia tak mau menjawab pertanyaanku dan teman-temanku saat itu. Dia hanya bilang kalau dahulu, dia punya kakak denga fisik yang sama, namun telah kembali ke Allah saat kecil. Okeh, kami tak berani lagi menanyakan hal itu kepadanya.
Masa SMP pun berakhir dan dilanjutkan dengan masa SMA. Ternyata, Aji mendaftar di tempat yang sama denganku. Kali ini, dia ditemai Dani, teman SMP ku. Tak ada yang janggal saat awal-awal masuk SMA. Tetapi, saat kelas 2, Aku mendengar kabar kalau Aji sakit. Tak tahu dia sakit apa dan teman sekelasnya pun tak tahu. Setelah berhari-hari, salah seorag guru menyiarkan bahwa Aji sangat membutuhkan darah untuk kelangsunga hidupnya. Dan ternyata dia mengidap penyakit TALASEMIA. Sebuah penyakit turunan yang sangat mematikan dan hanya sedikit orang yang mengidap penyakit itu. Kaget, saat tahu itu semua dan bagiku sebuah pertanyaa sejak SMP terjawab hari itu juga. Saat kelas 1 dan 2, Aji sering bolak-balik rumah sakit karena kondisinya yang semakin menurun. Kulit dan mata Aji berubah menjadi warna kuning pucat dan tak jarang dia pingsan saat dilaksanakan pelajaran. Entah apa yang dirasaka dia saat itu dan apa pula yang dia lakukan setelah lulus SMA. Tak terdengar lagi kabarnya. Saat dikonfirmasi beberapa hari yang lalu, dia sedang diraat di RS di kotaku. Dan hari ini, 4 Oktober 2012 malam, Aji kembali ke sisih Allah. Aji meninggalkan sejuta kebaikan dan keikhlasan di dunia ini. Aji gak pernah minder akan kekurangannya dan Aji tak pernah malu untuk tidak menyerah.
Aku, Temanmu SMP dan temanmu SMA akan selalu mengenangmu dalam doa. Allah akan selalu menuntun jalanmu dan tenanglah di sana. Selamat tinggal AJI SETYAWAN.

Sabtu, 29 September 2012

Cahya dan Gamapuri

Cahya...ketua omda
Musyawarah Kerja atau biasa dibilang Muker adalah salah satu agenda rutin omda aku, Gamapuri. Disini kami bisa kumpul bareng, ngobrol bareng, makan bareng, kenalan sama anak-anak baru dan yag paling penting adalah pemilihan ketua dan wakil ketua omda. Periode ini, giliran 47 sebagai calon ketua omda. Awalnya, aku milih Muti sebagai ketua, tetapi karena dia adalah orang yang super duper sibuk, akhirnya entah siapa yang aku pilih.
okeh, awal cerita dimulai pukul 16.00. Malas buat bangun dari tempat tidur maupun mandi buat berangkat ke kampus. Tetapi, demi Gamapuri, apapun akan aku lakukan. Aku bergegas bangun, mandi dan sholat untuk selanjutnya datang ke acara Muker sore itu. Dengan stelan baju dan kerudung ungu, kesukaanku, aku berlari menuju ruang B1C1. Aku kira, aku terlambat parah, tetapi ternyata acara belum dmulai karena menunggu teman-teman yang lain. Aku disambut oleh teman-temanku dari angkatan 48, yang saat ini menjadi panitia Muker. Gak ada perbedaan diantara kami, hanya muka aku yang terlihat lebih lusuh dibandingkan mereka. Kue dan minuman langsung aku santap dan habiskan, soalnya aku belum makan sore itu. hah...kenyang.. Banyak wajah asing saat itu. Akupun mulai mencari tempat duduk untukku melepaskan rasa letih ini.
Kursi deretan nomor dua dari belakang yang aku pilih. Saat itu, terlihat sosok lelaki yang tak asing lagi bagiku. Cahya Faisal Reza, si pendiam dari Fakultas kehutanan. Dia salah satu sahabatku di omda dengan otak encer. Tak pernah kusia-siakan dia saat TPB untuk sekedar membantuku belajar kalkulus atau mengerjakan PR ku. Dia pun tak pernah menolaknya. Ahhh...sering kubilang dia itu bodoh dalam bergaul. Semenjak SMA, dia adalah orang yag selalu kubenci, karena dia adalah raja mencontek di kelas hingg dia mendapat juara umum. Senyum lugunya menyambutku saat itu. Aku menuju arah dia dan duduk tepat disampinya. Karena lama tak bersua, obrolan-obrolan ringanpun terus kami lakukan. Mulai dari akademik, kehidupan sehari-hari, kabar sampai pacar. entah apa sebenarnya manfaat dari itu semua. Kami hanya melepas rindu sebagai seorang sahabat yag jarang bertemu, padahal satu kampus di IPB.
Ada yang berubah dari dia saat ini. Dia gak pendiam lagi, lebih terbuka dan yang jelas dia berani buat ngomong di depan, walau hanya sekedar bilang HAI. Dulu, dia lebih memilih mengepel lantai ataupun nyapu daripada harus berpidato di depan. Dia pernah menjadi ketua angakatan saat masa-masa MPD. Sungguh luar biasa bagiku. Entah apalagi yag kami bicarakan sampai kami lupa kalau saat itu sedang berlagsung acara lain. Yang aku ingat saat itu juga, dia siap menjadi ketua Gamapuri. Awesome banget saat aku dengar kalimat itu. Dengan guarauan aku berkata: Aku siap membantumu.
Singkat kata, pemilihan ketuapun dimulai. Ada 6 kandidat ketua yang akan dipilih, dan salah satunya Cahya. Mereka semua dituntut untuk menyampaikan Visi dan Misi. Amazing banget pas Cahya menyampaikan Visi dan Misinya. Intinya, dia 90 % siap menjadi ketua. 
*******
Penentuan ketua omda dilakukan secara musyawarah. Hampir semua orang mendukung Cahya-Anggar sebagai calon ketua dan wakil ketua. Setelah memalui beberapa perdebatan, akhirnya mereka berdua terpilih. Saat pengumumanpun, wajah lugu Cahya terus dipancarkannya.Aku tahu, dia adalah orang yang terus semangat dalam belajar, apapun itu. Dia berkomitmen tinggi dan aku yakin dia bisa.
Selamat Buat Cahya-Anggar, semoga GAMAPURI akan menjadi lebih baik dan indah.

Kamis, 27 September 2012

Antara Sosial atau Bisnis

TPB, adalah sebuah awal perjalanan saya di IPB. Menjalani semua dengan hal-hal baru, pengalaman baru, teman baru, dan dunia baru. Serba baru, ya...baru. Adaptasi adalah cara paling ampuh untuk menakhlukkan mereka, yang penting jangan sampai keblinger dengan dunia bodoh.
Kewirausahaan, begitu keras berdengung keras ditelinga. Mulai dari seminar kewirausahaan, lomba -lomba kewirausahaan, kegiatan yang berbau kewirausahaan, dan matakuliah Kewirausahaan. Amazing banget saat itu. Begitu menggebu-gebu jiwa dan raga ini, hingga akhirnya terbentuklah sebuah kelompok kecil yang bergerak dalam bidang kewirausahaan. Semangat pantang menyerah, demi keberlanjutan usaha, semangat pantang menyerah dalam mencari modal awal, dan semangat menyerah dalam mencari ilmu baru. Aku rasakan sebuah kebersamaan yang erat, ikatan batin yang kuat dan sebuah visi-misi yang tak jauh berbeda. Berlanjutlah usaha yang kami dirikan, hingga akhirnya lumayan tenar di kalangan mahasiswa. Promosi yang aku da teman-teman lakukan cukup menarik minat. Pernah aku lakukan pemaparan tentang bisnis ini saat kuliah, dan mendapatkan apresiasi sangat luar biasa dari dosen Kewirausahaan dan asprak mata kuliah Dasar-Dasar Komunikasi. Enjoy banget awalnya, tapi entah kenapa ada salah satu, bahkan salah banyak, yang mencemoohkan bisnis kami, sahabtku sendiri. Hingga akhirnya aku bertengakar dengan sahabatku ini. Tapi apa yang aku lakukan ini malah disalahgunakan oleh satu anggota kami. Dia itu X, aku ingat sekali saat itu. Padahl aku sudah mempercayai si X itu dalam konsultasi masalah ini. Tetapi dia malah menyebarka FITNAH ke semua orang yang ditemuinya. Aku menyadari akan hal itu saat salah satu temanku yang lain bercerita. Aku memaafkannya, namun dia tak juga berubah. Hingga akhirnya aku berjanji dalam diriku ini aku tak akan berbicara dengannya sebelum dia minta maaf langsung dihadapanku, bukan lewat SMS ataupun FB.
Oke, waktupun terus berlalu. Kami mencoba kembali bangkit dari sedikit keterpurukan yang ada. Aku akan mencoba untuk serius. Tapi saat masa uji coba itu, aku merasa aku hanyalah seorang yang asing. Gak berguna dan juga gak merugikan. Saat aku bilang X, tak ada satupun yang peduli. Tak ada satupun yang mencoba untuk mempertibangkannya. Saat itu pula aku mulai berpikir untuk mundur dan menyerah. Aku mulai termenung dan diam diantara mereka. Aku mulai tersadar saat aku menemukan jawabannya. Aku MUNDUR. Semua itu telah aku pertimbangkan dan aku konsultasikan.
Aku yakin akan prinsipku: jika aku mulai gak nyaman, aku lebih baik mundur dan mencari hal baru atau melakukan apa yang menjadi pasion ku, bukan hanya menjadi seorang parasit ataupun orang yang gak produktif. Aku akan fokus pada salah satu hal. Dan sekarang aku memilih satu hel itu, SOSIAL dan BUKAN BISNIS.
Terima kasih untuk semuanya, orang-orag yang hampir setiap minggu memberikan motivasi, hiburan dan ilmu. Tapi aku telah memilih, aku telah memtuskan dengan berbagai pertimbangan. Aku tidak hanya langsung berkata YA, tapi awalnya aku berkata TIDAK. Aku punya impian, begitu juga kalian. Mungkin perbedaan ini yang akan menjadikan kita akan satu kembali, bersama kembali, dan akan kokoh kembali. Kenangan saat kita bersama dulu akan aku genggam erat. Tapi maaf, untuk X, aku sulit memaafkanmu. Terima kasih. Sukseslah kalian, doakan terbaik untukku dan kalian.

Sabtu, 22 September 2012

Bangtan Season 2

Koplak, ngakak, dan persiapan yang benar-benar apa adanya. Mungkin ini patut aku kasih buat acara hari ini, 22 September 2012. Pembagian cabai, yang rencana awal akan dihadiri oleh para dosen pembimbing, ternyata gagal alias gak ada satupun dosen yang datang. Dan sesuai plan B, si kecil Takbir, akan mengisi acara ini dengan apa adanya pula. Slide-slide yang dibuat pun merupakan hasil karyana, H-1 acara Desa Cabai season 2. Pesimis-pesimis, itu yang kami rasakan awalnya. Aduuuuhhh...dengan dana yang pas-pasan kami mencoba untuk bangkit dan selalu optimis. Pasti ada jalan, walaupun kerikil-kerikil kecil kadang menghambat perjalanan kami. Dihinalah, dicacilah, dikucilkanlah (bahasa lebay)...tapi ini semua gak akan pernah mematahkan semangat kami. Tujuan kami hanyalah mengabdi ke masyarakat, gak lebih. Kami hanya ingin memberikan sedikit kemampuan kami dalam bidang Pertanian, bukan hanya hura-hura, ngehedon, dan selalu aneh-aneh. 
Oke, kami mulai beraksi sekitar pukul 06.30 pagi. Males awalnya, soalnya harus bangun pagi dan mandi pagi di hari libur, tapi aku mencobanya dan ternyata bisa. Kami memulai aktivitas dengan membersihkan gulma dalam pot, kemudian memisahkannya supaya memudahkan dalam pembagian nanti. Oke, setelah agak selesai kemudian kami sarapan pagi dengan menu nasi kuning ala kadarnya, hanya Rp 2000,00 dan entah itu beli dimana, yang penting perut terisi, makasi Dana dan Radhiya. Setelah makan, kami menuju ke Masjid Al-Barokah buat ngikutin pengajian ibu-ibu, sebelum acara dimulai. Hahaha...namanya anak muda, pasti males kalo ikutan begituan apalagi si penceramah pake bahasa Sunda, kagak ngarti aing mah. Akhirnya kami hanya bercengekrama di luar masjid sambil breafing sekilas tentang acara nanti. Oke, tepat pukul 09.30 pengajian selesai dan kami siap beraksi. Si Resa sebagai pembawa acara, Elfan si pemberi sambutan dan si kecil sebagai pengisi acara, oh iya aku dan Koko Ari sebagai PDD ala kadarnya. Banyak yang antusias sama acara ini. Banyak dari cabai mereka yang tumbuh oke (Desa Cabai Season 1). Tapi entahlah, kan aku gak pernah benar-benar liat. Tapi tujuan sebenarnya kami belum tercapai yaitu Warga akan memanfaatkan pekarangannya. Si kecil Takbir terus meyakinkan warganya supaya menanam komoditi lain agar pekarangan rumah mereka gak terbengkalai, okeh nanti kita liat perubahan dari warga.
Saat yang benar-benar menguras tenaga, jiwa dan emosi pun tiba. Bagi-bagi cabai ke warga. Aku yang sebelumnya sebagai PDD sekarang berubah menjadi si penerima tamu alias penunggu para warga untuk mendaftar. Riweh banget dah, warga pada gak sabar dan mereka pada curang. Bukan curang juga sih, tap gak jujur. Mereka menyuruh anak dan suami mereka buat ngambil cabe lagi dengan nama yang berbeda. Kami sempat kecolongan beberapa kali, namun itu semua dapat diatasi dengan jurus jitu kami. Hehehe.... Okeh setelah selesai semuanya, hampir pukul 12.00, kami beristirahat sambil foto-foto. Yah, mungkin aku dan temanku kurang sempurna sehingga banyak hal  dan kesalahan yang sering aku perbuat. Tapi aku mohon pengertian dan maafnya. Oh iya, satu lagi. Temanku yang awalnya sama sekali gak mau difoto, sekarang sangat narsis dan paling banyak foto dia di kameraku. Fiuuuuhhh...benar-benar capek.
Bangtan...Build up Super Team ^^