Sabtu, 07 Juli 2012

Bogor-Klaten

Alhamdulillah...lagi-lagi kata 'akhirnya' mengawali tulisan aku di blog ini.
IPB Goes to Field (IGTF) adalah salah satu program di IPB sebagai salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat di Indonesia. Beberapa tempat yang dijadikan lokasi IGTF adalah Klaten (padi dan tungku sekam), Demak (salinitas dan jambu air), Pekalongan (melon), Batam (penataan kota), dan tempat-tempat lainnya di Indonesia. Alhamdulillah saya diberikan sebuah amanah di Klaten tentang hama da penyakit padi serta kesuburan tanah sawah di Klaten. Oh iya, anggota kelompok aku ada Kak Hijjaz, Eli, dan Susi dan ditambah 3 orang dari tim tungku sekam yaitu kak Ria, Meta, dan Sudi. Sebelum ke Klaten, kami ada upacara pelepasan di Lapangan Rektorat bersamaan pelepasan KKP 2012. Pada saat itu, aku ditunjuk untuk mewakili tim IGTF untuk mendapatkan surat tugas.
Kami tiba di Klaten pada hari Selasa, 26 Juni 2012 pukul 06.30. Kemudian kami disambut oleh para petinggi di Dinas Pertania Kabupaten Klaten. Setelah penyambutan, kami langsung dibawa ke UPTD Kecamatan Delanggu untuk selanjutnya disebar ke masing-masing kecamatan yang telah ditentukan sebelumnya. Dan alangkah beruntungnya kami, kami ditempatkan di Kecamatan Delanggu dan berada di Desa Karang. Desa ini merupakan desa yang sangat strategis karena letaknya yang tidak jauh dari jalan utama Yogyakarta-Solo. Beruntungnya kami ini. Oh iya, di Delanggu kami ada satu tim penyuluh yang diketuai oleh Bu Yuni dan Pak Ridwan. Mereka sangat perhatian terhadap kami. Setiap satu minggu kurang lebih 3 kali, beliau selalu datang menjenguk kami untuk mengetahui perkembangan dan keadaan kami di di Desa Karang. Di karang, kami tinggal di sebuah rumah kosong milik bapak Pono.Ramah sekali warga desa Karang ini, dan tak terkecuali Dukuh Jogodayoh. 
Awalnya, kami masih sangat canggung untuk saling menyapa satu sama lain. Tapi ternyata, para anggota kelompokku ini sangat menyenangkan. Banyak hal yang aku dapatkan bersama mereka. Mulai dari rasa saling menghargai, kekeluargaan, kebersamaan, saling membantu, dan rasa saling menjaga satu sama lain. Informasi-informasi beasiswa dan berbagai pengetahuan dan pengalaman yang sangat luar biasa juga saya dapatkan disini.
Pekerjaan di Klaten
Sebenarnya pekerjaan yang menyenangkan namun melelahkan akan kami hadapi di sini. Kita harus mendapatkan 3 Desa, dan setiap desa kita harus mengamati 4 hamparan, dan setiap hamparan itu kita harus mendapatkan 3 petak yang letaknya agak sedikit berjauhan. Saat aku melihat persawahan di sini, sungguh luar biasa besarnya hamparan persawahan disini. Pantas saja persediaan beras di Indonesia sangat bergantung di Klaten ini. Di sini kita harus mengamati hama dan penyakit tanaman padi, kondisi persawahan, dan kondisi tanah. Aku terlihat bodoh ketika harus sharing dengan para petani disini. Kami banyak belajar dari mereka. Kadang banyak hal yang sangat bertentangan dengan yag diajarkan di bangku kuliah. Selain itu, petani disini sangat unik dan menyenangkan. Bahkan ada beberapa petani yang sangat menginginkan untuk diwawancara. Sistem pembagian air di sini juga sangat baik. Setiap musim kemarau ada pergiliran pembagian air. Petani disini juga banyak yang lulusan S1 pertanian. Huwaaaahhhh....aku sangat antusias lagi kala bertemu dengan Pak Tri Waskito, seorang petani di desa Banaran. Beliau menerapkan sistem Tabela (tanam Benih Langsung) pada tanaman padinya. Menurut beliau, sistem ini sangat efisien dari segi waktu dan tanaman tidak mengalami stres. Selain itu, padi yang dihasilkan juga lebih banyak dibandingkan dengan sistem tanam legowo maupun yang lainnya. Selain itu, sistem tanam tabela juga membutuhkan jumlah pupuk yang lebih sedikit.Sistem tanam ini baru diterapkan oleh Bapak Tri di Desa Banaran ini.Kata beliau, ini sangat cocok untuk penelitian aku. HEHEHE ^^ maunya sih. terus update tulisanku aja yo. Masi banyak yang belum kutiskan teman-teman.

Sabtu, 12 Mei 2012

Saya Bingung

Alhamdulillah..akhirnya saya bisa menulis lagi pada hari ini
Mungkin tulisan kali ini lagi-lagi tentang curhatan beberapa teman saya dan sedikit isi dalam hati saya ini.
Okeh,,kita awali tulisan ini dengan kegalauan saya dan beberapa temn saya setelah melihat beberapa hasil nilai UTS semester 4. Waaaahh..sungguh berwarana. Ada nilai yang melambung tinggi dan ada juga nilai yang jatuh sekali. Contohnya Fisiologi Tumbuhan alias Fistum. Rata-rata kelas saya saja hanya 43 dan nilai diatas 8 hanya satu orang dari 175 mahasiswa. Hueaaaaa...heboh. Tapi alhamdulillah saya dapat kepala 6. Banyak curhatan mengenai Fistum, mulai dosen UTS yang gaje dan gak mau beranjak dari tempat duduknya, sampai suara Bapaknya yang seperti Rocker..Hehehehe...bener juga sih, saya saja setiap kali kuliah Fistum pasti tidur dengan lelapnya. Sekarang setelah UTS, dosen Fistum ganti. Harapan mendapatkan dosen yang agak waras dikitpun pupus sudah. Kenapa demikian?? Alasannya dosen ini melarang mahasiswanya keluar kelas, katanya kayak di Kafe. Pernah kemaren teman saya sakit perut dan kebelet ke kamar kecil, namun tidak diperbolehkan keluar. Siaaaallll itu doseeeennn... Amit-amit banget dah. Terus kalau ditanya masalah apa yang diterangkan dalam kuliah tersebut, pasti jawabanyya "cari saja di literatur". Aduuhhh... serba salah kalau sama dosen ini. Benar-benar SURAM nasib Fistum.
Okehh..lajut dengan curhatan kedua para lelki yang sedang bergalau ria dengan urusan wanita. Sebut saja X, dia mengaku galau, depresi dan seperti orang gila setelah 2 minggu diputus oleh sang cewek. Yahhh...muka madesunya tiap kali muncul. Pikirannya cuma nikah, nikah, dan nikah. Gilaaaa... para lelaki ini. Curhatan kedua muncul dari seorang lelaki yang sering saya ledekin CUPU. Haha soalnya setiap kali dia ngedeketin cewek selalu cuma dimanfaatkan oleh sang cewek. Dan puncaknya saat lelaki tersebut mencoba untuk "menembak" cewek tersebut. Dan lebih ironis, sang cewek mengatakan "TIDAAAKKK"... Aduhhh...muka temanku ini sungguh kasihan. Dalam waktu satu jam dia langsung menghabiskan 5 batang rokok. Buseeetttt... Dasar lelaki kalau udah galau mah nggak ketulungan dan susah pulihnya.
Lanjut ke curhatan saya. Setiap kali saya mengerjakan tugas kelompok tak ada yang membantu dan hanya beberapa saja yang sedikit terbuka pintu hatinya untuk membantu makhluk hina ini. pernah tema saya bertanya, mana kelompok mu sun, tak ada yang datang? Mending ditemani satu atau dua orang, ini tak ada satupun yang membantumu? Nggak marah kamu sama mereka?? Dengan lembut saya mengatakan. saya nggak akan pernah marah di depan para penjahat-penjahat itu walaupun mereka terus menyakiti hati ini. Saya akan selalu tersenyum, mungkin dengan senyumku ini mereka baru akan menyadarinya. Saya sering menangis sendiri, yah layaknya oang gila yang sedang bimbang. Saya sering seperti itu, tapi apalah guna saya menangis kalau para penjahat-penjahat itu selalu menghina saya dengan cacian khas mereka. Saya hanya bisa memendamnya. Kadang saya juga sering dinasehati oleh teman saya, kenapa saya tidak bilang ke mereka kalau mereka itu salah besar dalam menilai saya yang hina ini?? Saya hanya bisa berkata, saya MISKIN. karena mereka selalu menjodohkan aku ini dengan uang mereka yang bahkan aku tak lebih dari sebuah SAMPAH.
Tapi sekarang, kegalauan itu perlahan tak aku pikirkan. Saya dipinjamkan sebuah buku. Luar biasa buku ini. Ini menceritakan bagaimana cara kita untuk dekat dengan Allah. Selain itu, saya juga sangat berterima kash atas segala nasihat-nasihat dan saran-saran dari sahabat saya yang hampi satu minggu belakangan ini terus memotivasi saya.
Banyak air mata, emosi, dan keringat yang telah saya curahkan. Mungkin saya terlalu hina bagi mereka. Tapi sesungguhnya saya hanya akan selalu percaya pada Allah SWT.

Kamis, 05 April 2012

Gak Ada Judul


Alhamdulillah..akhirnya aku menulis lagi setelah sekian lama vakum
oke...banyak cerita dan pengalaman seru selama aku tidak menulis blog anehku ini. Di semester 4 ini aku disibukkan oleh praktikum setiap hari,dilanjutkan kuliah tanpa henti,berbagai program dan bisnis. Mungkin agak sedikit keteteran, tapi aku harus profesional dalam menghadapinya. Meskipun banyak tugas yang kadang terbengkalai bahka kuliah yang sedikit tercecer karena seringnya aku ketiduran, entah di kelas ataupun di kamar.
Banyak hal yang menarik dari semester 4 ini, mulai dari praktikum yang GAJE sampai praktikum yag biki badan aku berasa remuk...yah karena kudu nyangkul, ngangkat bibit sawit, bikin lubang tanam, bikin teras dan lain sebagainya. Namun di balik rasa lelah itu semua, aku merasakan sebuah kebersamaan, persahabatan dan pengalaman baru. Mulai dari pengalaman pertama naik traktor, bajak sawah, dan bayak lagi dah dan intinya petani banget. 
Persahabatan,,di sini aku mulai menemukan sahabat-sahabat baruku, mulai dari yang satu angkatan sampai yang beda angkatan. Kebersamaan bareng keluarga baru, teman baru, dan hal-hal baru. Mungkin ini hanya akan aku rasakan sekali seumur hidup.  Oh ya dari persahabatan ini juga muncul konflik-konflik kecil. Maklumlah masih ABG, belum dewasa..masih mentingin ego masing masing, rasa ingin menang dan ingin menjadi yang terbaik. Namun kata seorang teman,kalau konflik itu gak ada maka gak bakalan seru dan berwarna hidup ini.
Oke..terima kasih sahabat-sahabatku dan keluarga baruku...I LOVE YOU ALL
CC: usi, niki, ayu, febri, nani, mastha, alfi, syahrina, jabar, agung, ichan, dio, wida, atika, takbir, gerland, elfan, ricky,yuda,dana,randi dan semua teman-teman terbaikku yang telah rela berteman denganku.

Kamis, 09 Februari 2012

Pembohong

Sekarang ini, aku hanya ingin sendiri. Yaa, sendiri. Menikmati indahnya dunia tanpa seorang teman bahkan mungkin sahabat. Aku sendiri, jujur, tak pernah bisa menjadi seorang teman yag baik bahkan mungkin seorang sahabat. Karena yang aku yakini sahabat itu hanyalah PEMBOHONG BESAR yang bersembunyi di balik sikap manis dan lugunya itu.
Yah, kenapa aku tidak percaya akan sahabat? Berikut alasannya
1. Sahabat hanyalah manusia sok suci dan baik yang hanya akan mewarnai sedikit duniamu bahkan sahabat bisa juga membatasi kreativitasmu dan hidupmu.
2. Sahabat hanyalah sebuah kata munafik dari orang-orang yang selalu menganggap dia itu paling benar.
3. Sahabat hanya membuat kita patuh dan tunduk kepada keadaan dan tidak dapat menentang keberadaannya, bahkan membuat kita serasa terpenjara oleh situasi genting.

4. Sahabat hanyalah penghias ruang kecil di hati, dan bahkan membuat kita tidak sadarkan diri atas sebuah kondisi yang seharusnya kita tidak bisa melakukan hal tersebut.

Aku menulis ini hanyalah dengan emosi yang telah memuncak saat aku dihianati oleh sahabatku sendiri. Aku hanya mendengarkan keluhan-keluhan tidak penting yang membuat aku semaki muak dan semakin membuat keadaannya (dulu sahabat) semakin pasrah akan keadaan dan tanpa tindakan berarti. Tapi kadang aneh, aku juga selalu mendengarkan keluhannya, tapi tiba-tiba ia pergi begitu saja kala ia melihat seseorang yang mungkin lebih baik daripada aku.
Rasa manusiawi yang kadang hilang, janji palsu yang kadang menyesatkan aku, dan keluhan-keluhan bodohnya menjadi sampah dalam pikiran ini yang harus aku buang jauh. Yah,,hanyalah sampah.
Maafkan aku, aku menulis ini. Maaf jika kata-kata ini kasar dan maaf jika kalian tersakiti. tetapi, ini aku apa adanya.

Senin, 06 Februari 2012

Mimpi


Yah... aku mulai menulis lagi berbagai cerita-cerita gaje ku ini. Kali ini aku menuliskan sebuah rencana kecil untuk desa yang aku tinggali sekarang ini. Desa kecil di kaki bukit Giri Satria, Kaliwatubumi. Desa dimana aku dibesarkan dengan kasih dan sayang bapak dan mamakku. Desa yang berkembang dengan pertaniannya, dan desa yang membuat aku sadar akan pertanian itu, desa yang membuat aku lebih mandiri, dan desa yang sangat luar biasa.
Okeh, desaku ini dibilang cukup subur. Terbentang persawahan dan tegalan berwarna hijau. Terdapat juga bukit kecil dengan pohon-pohon besar yang menambah keindahan desaku ini. Aku mulai menyadari akan arti pertanian di desaku ini, makanya aku milih IPB. Yah bisa dibilang juga tanah di desaku ini cukup subur. Bukannya sombong, tapi emang bener sih. Okeh, di semester 3 aku mendapat pelajaran PIT alias pengantar ilmu tanah. Di mata kuliah ini aku mendapat pengetahuan tentang berbagai jenis, tekstur, dan struktur tanah. Aku mulai mencoba memirit-mirit tanah, dan ternyata ada perbedaan tanah di dekat bukit sama di pekarangan rumahku. Menurut analisis tanah yang aku pelajari, tanah di dekat bukit desaku ini mengandung unsur liat dan debu yang lebih dominan, soalnya tanah di dekat bukit ini terasa lengket dan licin. Sedangkan tanah di pekarangan rumahku didominasi oleh pasir berdebu. Yah, itung-itung menerapkan PIT dalam kehidupan. Selain itu, tanah di rumahku termasuk dalam Vertisol, yaitu tanah yang mengembang saat basah dan mengerut dan pecah-pecah saat kering.
Okeh, kembali ke desaku. Di desaku ini, pertaniannya sangat maju menurut pengamatanku. Hampir setiap sore hari para tengkulak sayuran mencari dagangannya di desaku ini. Mulai dari bayam, daun singkong, kangkung, dan berbagai sayuran lainnya. Selain itu, di desaku ini adalah surganya cabai, terong, pare, dan berbagai bibit tanaman perkebunan seperti akasia, jabon, dan jeruk lokal. Yah, bisa dilihat setiap hari para tengkulak membawa berkarung-karung sayuran untuk dijual di pasar tradisional esok paginya. Aku senang dan merasa sangat nyaman di desaku ini.
Yah, dibalik kerja keras para petani dan majunya pertanian di desaku ini, aku juga merasa sangat pesimis dengan keberlanjutan keberhasilan desaku ini. Aku heran dengan para pemuda di sini. Mereka sangat kurang tertarik dengan yang namanya PERTANIAN. Yah, bisa dilihat kenyataannya sih. Setiap sore, pemuda di desaku hanya main-main, ngobrol, nongkrong, dan pacaran di sekitar desa. Bahkan, saat aku tanya kenapa gak bantu ke sawa? Jawaban yang sangat menyedihkan: aku takut hitam dan jerawatan. Haaaaahhh. Jawaban yang aneh. Aku mulai berjalan di jalan desaku dan melihat pemuda disini hanya duduk manis sambil nongkrong di warung. Yah, aku mencoba masuk ke dunia mereka. Bukan pertanianlah yang mereka bicarakan, tetapi masalah PACAR. Huuuhh. Sampai-sampai ada yang berantem gara-gara pacar. Ya Allah. Betapa sempitnya pemikiran mereka. Rokok, HP, motor adalah barang wajib bagi mereka. Bukan keringat yang mereka kejar, tapi kesempurnaan duniawi.
Okeh, lanjut cerita. Aku mulai mengikuti rapat pemuda di desaku. Aku heran sama mereka. Yang mereka bicarakan hanyalah hal-hal yang gak jelas yang bersifat hura-hura. Bukan pertanian yang mereka bicarakan. Aku heran, padahal kalau ditelisik lebi dalam pertanian lah yang membesarkan mereka. Aku juga agak heran kala mengikuti rapat pertanian para bapak-bapak di desaku. Bukan produksi melimpah dan berkelanjutan yang dibahas, tapi hanyalah pupuk dan pestisida yang mereka bahas. Penting sih tapi.....
Aku juga agak kecewa dengan pemikiran para orang tua sekarang, yah yang tinggal di desaku ini. Mereka gak ingin anaknya kerja di pertanian dan lebih memilih anaknya kerja sebagai BURUH PABRIK yang bisa saja di PHK sewaktu-waktu. Tapi, pemikiran pemuda disini juga mungkin masih dangkal kali yah, hehehe. Mereka berpikir kalau sekolah terlalu tinggi hanya buang-buah duit. Yah, emang sih perlu adanya sosialisasi yang dapat membuka pikiran dan batin mereka. Oh ya, satu lagi yang aku amati dan ini merupakan bukti nyata dan didukung oleh guru ngaji+konsultan aku masalah yang mendera desaku ini. Dan mungkin inilah yang menjadi penyebab ledakan penduduk di Indonesia. Setiap kali orang di desaku pergi ke kota (Jakarta dan kota besar lainnya), pasti mereka akan mencari kerja apapun pekerjaannya. Setelah beberapa bulan, ada juga yang tahun, di kota, pasti saat pulang akan membawa calon istri atau suaminya ke rumah mereka. Dan beberapa bulan, pasti mereka akan punya anak dan anaknya akan ditinggal di desaku ini. Huh, selain nambah penduduk, ini juga meningkatkan perpindahan warga dari desa ke kota (urbanisasi)yang merupakan masalah besar yang sedang melanda kota-kota besar termasuk Jakarta. Yah sudahlah, apa boleh buat. Masak aku harus mencegahnya.
Okeh, ada beberapa lagi  masalah pertanian yang melanda desaku ini. PERTAMA, masalah kepemilikan lahan dari petani yang terlalu sempit selain itu, adanya konversi lahan dari pertanian ke nonpertanian, seperti  dua perumahan yang terletak di desaku ini. KEDUA, kurangnya perhatian aparat desa terhadap perkembangan pertanian di desaku ini. Kata masyarakat di desaku ini sih, lurahnya gak jelas, suka mangkir dari pekerjaan dan tanggung jawabnya, dan yang jelas dia itu GABUT. KETIGA, adanya pihak-pihak penguasa yang ingin memiliki seutuhnya tanah di desaku. Ada salah satu perusahaan besar yang membeli tanah di desaku dengan harga sangat murah. Dan tanah tersebut dibuat untuk kepentinga perusahaan, misalnya sebagai tempat penjualan mobil bekas dan restoran. KEEMPAT, kurang pedulinya pemuda dalam hal pertanian.
Banyak hal yang ingin aku lakukan untuk desaku ini. Yah impian aku sih ingin memajukan desaku ini melalui pertanian. Soalnya, kedepan pertanian itu sangat dibutuhkan. Coba bayangkan kalau semua orang jadi guru, lalu siapa yang mau jadi petani? Masak kita harus terus-terusan ngimpor da akhirnya berujung pada demo mahasiswa dan kesenjangan sosial. Huh, mau jadi apa coba??? Impian aku sih pertania modern untuk kemajuan desa. Jadi, di desaku ada sebuah wadah yang membidangi pertanian, yang jelas pertanian dalam arti luas. Kemudian, di desaku juga ada sebuah wadah yang mengelola hasil pertanian tersebut. Yah, itenaga kerjanya sih dengan memberdayaka masyarakat sekitar. Terus, apa peran pemuda? Kalo menurutku sih, pemuda ka cerdas dan banyak ide. Mungkin dengan memanfaatkan limbah-limbah rumah tangga dapat membuat sebuah kerajinan yang dapa mengisi waktu luang mereka. Selain itu, pemuda juga dapat membantu mensosialisasikan pertanian tersebut, mungkin dengan teknologi-teknologi baru, informasi-informasi yang sedang berkembang, mengenalkan internet ke petani, ataupun menjadi media penghubung antara petani dengan pemerintah. Hehe, itu sih Cuma angan-angan belaka. Selain bidang pertanian, aku juga ingin meningkatkan pariwisata di desaku ini. Yah mungkin melalui BLOG aku ini, aku dapat mengenalkan desaku ini pada dunia bahwa kami itu ada. Hehe.
Oh ya, satu lagi dan mungkin ini kalimatku yang terakhir. Aku ingin pemuda bergerak, aku ingin petani tersenyum, aku ingin dunia melihat, dan aku ingin desaku berebeda dengan pertaniannya.

Senin, 16 Januari 2012

Perjalanan Menuju Istana

Yah..UAS sudah aku lewati, tinggal menunggu hasil akhir. Akupun merasa sangat bahagia karena aku akan bertemu dengan keluarga tercinta di Purworejo. Selain itu, kado terindah di akhir UAS ini adalah proposal PKM yang aku dan teman-temanku kerjakan didanai oleh DIKTI. Tapi, liburanku jadi kepotong oleh PKM tersebut. Tak apalah, walaupun liburannnya sebentar.
Okeh,, Hari Senin, 16 Januari 2012 aku pulang ke Purworejo. Aku tak sendirian pulang kali ini. Bersama Nani, Mastha, dan Tian aku naik kereta ekonomi Gaya Baru Malang Selatan (GBM). Sebelumnya, kami berkumpul di BNI jam 8 pagi. Kemudian menuju Stasiun Bogor. Kemudian kami menuju Stasiun Jakarta Kota menggunakan KRL commuter. Saat di KRL, aku bertemu dengan seorang pengusaha pot yang terbuat dari pelepah batang pisang. Bagus banget potnya. Sangat kreatif bapak ini. Akupun mulai bertanya asal dari bapak ini. Ternyata, ia tinggal di daerah Kramat Jati dan akan memasarkan pot hasil karyanya ke Mangga Dua. 
Akhirnya, aku dan teman-teman sampai di sana sekitar pukul 10.45. Kami duduk-duduk sambil ngorol di tempat tunggu kereta. Setelah kurang lebih 1 jam menggu, akhirnya kereta GBM pun datang juga. Kami duduk di gerbong 7 nomor 7A-7D dan 8A-8B. Saat kami duduk di dalam kereta, tiba-tiba ada 2 orang laki-laki berbadan besar menghampiri kami. Mereka tiba-tiba ngomong,'eh,ini tempat duduk kami, kalian duduk dimana?'dengan muka premannya.
Tak mau kalah, kami aku pun bilang,'maaf bapak2, ini tempat duduk kami. Kalau Anda gak percaya, kami tunjukkan tiket kami. BAnyak kali pak tempat duduk 7A-7B. Mungkin Bapak salah gerbong.' Saat itu aku mulai emosi. 
'Eh.. kami benar2 duduk di sini. Ini tiket kami.'Salah satu dari bapak itupun menunjukkan tiketnya.
Aku pun mulai tertawa, 'Maaf Pak, Bapak gerbong empat. Makanya, liat-liat dulu kalau mau sok tahu.' kami pun mulai ketawa terbahak-bahak.
Hah... untung kami menang dalam perdebatan itu. Okeh, kereta GBM pun akhirnya berangkat. Saat di stasiun Senen, aku sama Tian tak sengaja meneteskan air mata. Kami melihat seorang ibu yang meninggalkan aaknya di sana. Bukan karena apa2, sang ibu dan anak pun menangis. Kala itu, aku ingat saat pertama kali ke Bogor dan meninggalkan ibuku. Hah, mungkin aku itu cengeng.
Okeh, Perjalanan pun kami lanjutkan bersama kereta ekonomi ini. Tak aku sangka, perjalanan ini berlangsung sangat cepat. Tiba-tiba, aku sampai di stasiun Cirebon. Aku suka banget stasiun ini, karena di stasiun ini aku dapat melihat sebuah masjid yang sangat indah. Aku belum diberi kesempatan oleh Allah untuk mengunjungi masjid ini.
Hanya sekitar 5 menit kereta ini singgah di sng banci.Stasiun Cirebon. Perjalanan pun dilanjutkan. Tak berapa lama, terdengar suara seseorang bernyanyi. Tidaaaaaakkkkk.....ternyata seorang BANCI. Kamipun pura-pura tidur. Tetapi, saat sang banci itu jalan disamping tempat duduk kami, banci itu menginjak kaki aku sampai bengkak. Aku takut buat menjerit. Untung aku pakai masker, sehingga saat mulut aku menganga kesakitan, banci itu tak melihatnya. Setelah agak jauh, kami mulai mengintip sang banciSialan, bancinya agak gendut dan bajunya sangat tidak sopan. Huh... yang penting dapat melewati rintangan pertama.
Tak berapa lama, sekitar 10 menit kemudian, datang lagi banci kedua. Banci ini agak lebih baik. Dan kamipun mulai pura-pura tidur lagi. Hah...banci lagi banci lagi. Banci ketiga pun datang. Kali ini, sang banci memakai jilbab yang dimodif. Dia mulai menyanyikan lagu bang toyib. Hahaha...pengin ngakak sebenarya. Tapi takut.
Okeh, akhirnya kami tiba di Brebes. Banyak penjual yang masuk di kereta ini. Ada penjual mie, kopi, air minum, pecel, jagung rebus, baju batik, sandal, kopiah, sampai bawang merah. Akhirnya akupun beli bawang merah dengan harga sepuluh ribu. Aku mendapatkan 6 bungkus bawang. Yah... itung-itung oleh-oleh. Di Brebes, banci yang keempatpun datang. Aku ingat banget suara baci itu. Yah, dia adalah banci yang pernah naik di kereta yang sama saat aku pulang liburan UAS pas TPB. Banci kali ini sangat baik. Dengan gaya menelnya, diapun mulai menggoda kami. Hah,, sungguh keunikan tersendiri saat naik kereta ekonomi. 
Hujan mulai turun. Sangat deras. Tak berapa lami, kami sampai di sebuah tempat yang sangat indah. Kami melihat bnyak bukit-bukit hijau dan gunung yang menjulang tinggi. Kami juga melihat sungai yang melintas indah di bawah rel kereta api. Kami juga melihat terasiring sawah-sawah warga yang tertata indah. Waaaahhhh... benar-benar indah. Temanku Tian, yang notabene anak ARL, mulai berkata,' Seandainya anak-anak ARL nai kereta ini dan melihatnya, pasti mereka akan berdecap kagum. Aku pengin kesini dan menjelajahi seluruh daerah ini.'
Memanag sangat indah. Mastha tak lupa mengabadikan momen ini. Kalau teman-teman lewat tempat ini, kalian pasti akan mengucapkan kata-kata yang sama 'Subhanallah'.
Okeh, tak berapa lama, keretapun smpai di Purwokerto. Artinya, perjalanan menuju rumahku tinggal 2 jam lagi. Hati mulai deg-degan ingin bertemau bapak dan mamak. Di sini, adalah sarangnya pengamen. Wahhh.. Tak berapa lama terdengar suara pengamen. Merdu banget but menyanyikan lagu suaranya. Pengamen tersebut menyanyikan lagu I'm Yours. Empukkkkk banget suaranya. Aku dan teman-teman sngat menikmati suara merdu mereka. Tak berapa lama, muncullah pengamen kedua. Pengamen kali ini adalah pasangan ibu dan anak. Waaahhhh... bagus banget suaranya. Tak berapa lama, ada penjual topi coboy. Hahahaha...akupun mulai mencoba topi tersebut dan berfoto. Hehehe...Kata teman-temanku, topi ini mirip topi Bapak Suwarto, Dosen AGH. Hehehe
Tak berapa lama, kereta pun sampai di stasiun Kutoarjo. Yaahhh,,, aku harus berpisah dengan teman-temanku. Sedih sih,,,tapi besokkan ketemu lagi di Bogor. Hehehe. Yang penting aku ingin bertemu Bapak dan Mamak di rumah. Dan akhirnya aku sampai di rumah sederhanaku. Aku disambut senyum gembira Bapak dan Mamak. Tapi aku sedih kala melihat keadaa rumahku ini. Atap rumahku pada bocor. Banyak ember berserakan di lantai. Saat aku menuju dapur, aku lebih sedih. Dapur rumahku ini banjir oleh air hujan. Ingin rasanya aku memperbaikinya, tapi belum kesampaian juga. Besok dah, Bapak dan Mamak, aku pasti memperbaikinya.


Sabtu, 07 Januari 2012

Monster Name Tag

Akhirnya aku nulis lagi di blog sederhanaku ini. Di sela-sela belajar gentan yang membuat puyeng kepalaku dan bikin mual perutku. hahaha,,, sedikit lebay. Inilah gaya aku.
Yah, itu hari Sabtu. Hari itu aku melaksanakan ujian  dua kali sehari, tapi ini bukan minum obat. Pit (pengantar ilmu tidur),,,eh pengantar ilmu tanah dan Daskom.
Aku cerita mulai dari malam sabtu sebelum ujian. Aku mulai sibuk dengan slide PIT ku dan biku Daskomku yang amat tebel. Aku mulai baca lembar demi lembar slide PIT dan akhirnya titik kejenuhan itu pun muncul. Ku buang jauh-jauh slide PIT dari hadapanku dan mulai kubuka buku tebal berwarna pink (yang sebenarnya berwarna hijau), itu adalah buku aspal dari buku yang sebenarnya yang dijual di gramedia 'Bara' amping tukang gorengan Berlin. Yah aku baca kalimat demi kalimat. Ada beberapa kalimat dan kata-kata yang menurut temen saya agak jorok. Tetapi, kata-kata dalam buku tersebut sangat menrai bagi aku. Contohnya tahap pengikatan menurut Knapp: memulai-penjajagan-penggiatan-pengintegrasian-dan pengikatan. Hal itulah yang berhubungan dengan masalah Pendekatan. Tahap-tahap itu juga berhubungan dengan Pengungkapan diri. yah sudahlah, pusing aku sama Daskom. Tapi seru juga baca buku ini,, hehehe... sekalian cari cari informasi tentang berbagai hal berkomunikasi dengan orang lain.
Yah sudah,, karena aku capek aku memulai untuk tidur.
Keesokan harinya, adalah hari yang ditunggu. Aku masuk ke GWW dengan wajah imutku ini sendirian, walaupun diwitu banyak orang. Karena aku telat masuk ke GWW, dapetlah aku duduk paling depan kedua. Tak apalah, yag penting nyaman. Waktupun mulai berjalan. Ketika seluruh peserta ujian duduk, terdengarlah suar cempreng dari atas panggung. Aku mulai mencari sumber suara itu da ternyata dia adalah 'Monster Name Tag', ada juga yang bilang 'Nenek Lampir'. Aku sebut Monster name tag soalnya setiap kali praktikum PIT dia selalu mencari para mahasiswa yang tidak memakai name tag. Aku terus pandangi dia. Hahaha... Wah, sudah sekitar 30 menit waktu berjalan. Tiba-tiba ada sesosok wanita datang di depanku. Tidaaaakkkk.... Dia adalah sang monster. Haduh-haduh... gandeng baget tuh monster. Terus bawel di tengah-tengah ketegangan para mahasiswa. Tak berhenti-hentinya bercerita ngalor ngidul dengan Pak Budi (nama dosen PIT). Gilaaa...ketawanya menggelegar membuat GWW runtuh.
hahhaa...Lebay banget aku ini. Terus kupandangi dia di kala ujian hari itu. Bibirnya yang merah merekah dan matanya yang melotot tajam terus mengawasi mahasiswa. Tak ada satupun yang dapat melakukan aksinya karena sang Moster terus mengawasi.
okehhh...ini cerita gaje aku saat UAS. Maaf yah, memang monster ni tidak bisa ditakhlukkan jadi WASPADALAH-WASPADALAH....
Hahahahaah