Senin, 16 Januari 2012

Perjalanan Menuju Istana

Yah..UAS sudah aku lewati, tinggal menunggu hasil akhir. Akupun merasa sangat bahagia karena aku akan bertemu dengan keluarga tercinta di Purworejo. Selain itu, kado terindah di akhir UAS ini adalah proposal PKM yang aku dan teman-temanku kerjakan didanai oleh DIKTI. Tapi, liburanku jadi kepotong oleh PKM tersebut. Tak apalah, walaupun liburannnya sebentar.
Okeh,, Hari Senin, 16 Januari 2012 aku pulang ke Purworejo. Aku tak sendirian pulang kali ini. Bersama Nani, Mastha, dan Tian aku naik kereta ekonomi Gaya Baru Malang Selatan (GBM). Sebelumnya, kami berkumpul di BNI jam 8 pagi. Kemudian menuju Stasiun Bogor. Kemudian kami menuju Stasiun Jakarta Kota menggunakan KRL commuter. Saat di KRL, aku bertemu dengan seorang pengusaha pot yang terbuat dari pelepah batang pisang. Bagus banget potnya. Sangat kreatif bapak ini. Akupun mulai bertanya asal dari bapak ini. Ternyata, ia tinggal di daerah Kramat Jati dan akan memasarkan pot hasil karyanya ke Mangga Dua. 
Akhirnya, aku dan teman-teman sampai di sana sekitar pukul 10.45. Kami duduk-duduk sambil ngorol di tempat tunggu kereta. Setelah kurang lebih 1 jam menggu, akhirnya kereta GBM pun datang juga. Kami duduk di gerbong 7 nomor 7A-7D dan 8A-8B. Saat kami duduk di dalam kereta, tiba-tiba ada 2 orang laki-laki berbadan besar menghampiri kami. Mereka tiba-tiba ngomong,'eh,ini tempat duduk kami, kalian duduk dimana?'dengan muka premannya.
Tak mau kalah, kami aku pun bilang,'maaf bapak2, ini tempat duduk kami. Kalau Anda gak percaya, kami tunjukkan tiket kami. BAnyak kali pak tempat duduk 7A-7B. Mungkin Bapak salah gerbong.' Saat itu aku mulai emosi. 
'Eh.. kami benar2 duduk di sini. Ini tiket kami.'Salah satu dari bapak itupun menunjukkan tiketnya.
Aku pun mulai tertawa, 'Maaf Pak, Bapak gerbong empat. Makanya, liat-liat dulu kalau mau sok tahu.' kami pun mulai ketawa terbahak-bahak.
Hah... untung kami menang dalam perdebatan itu. Okeh, kereta GBM pun akhirnya berangkat. Saat di stasiun Senen, aku sama Tian tak sengaja meneteskan air mata. Kami melihat seorang ibu yang meninggalkan aaknya di sana. Bukan karena apa2, sang ibu dan anak pun menangis. Kala itu, aku ingat saat pertama kali ke Bogor dan meninggalkan ibuku. Hah, mungkin aku itu cengeng.
Okeh, Perjalanan pun kami lanjutkan bersama kereta ekonomi ini. Tak aku sangka, perjalanan ini berlangsung sangat cepat. Tiba-tiba, aku sampai di stasiun Cirebon. Aku suka banget stasiun ini, karena di stasiun ini aku dapat melihat sebuah masjid yang sangat indah. Aku belum diberi kesempatan oleh Allah untuk mengunjungi masjid ini.
Hanya sekitar 5 menit kereta ini singgah di sng banci.Stasiun Cirebon. Perjalanan pun dilanjutkan. Tak berapa lama, terdengar suara seseorang bernyanyi. Tidaaaaaakkkkk.....ternyata seorang BANCI. Kamipun pura-pura tidur. Tetapi, saat sang banci itu jalan disamping tempat duduk kami, banci itu menginjak kaki aku sampai bengkak. Aku takut buat menjerit. Untung aku pakai masker, sehingga saat mulut aku menganga kesakitan, banci itu tak melihatnya. Setelah agak jauh, kami mulai mengintip sang banciSialan, bancinya agak gendut dan bajunya sangat tidak sopan. Huh... yang penting dapat melewati rintangan pertama.
Tak berapa lama, sekitar 10 menit kemudian, datang lagi banci kedua. Banci ini agak lebih baik. Dan kamipun mulai pura-pura tidur lagi. Hah...banci lagi banci lagi. Banci ketiga pun datang. Kali ini, sang banci memakai jilbab yang dimodif. Dia mulai menyanyikan lagu bang toyib. Hahaha...pengin ngakak sebenarya. Tapi takut.
Okeh, akhirnya kami tiba di Brebes. Banyak penjual yang masuk di kereta ini. Ada penjual mie, kopi, air minum, pecel, jagung rebus, baju batik, sandal, kopiah, sampai bawang merah. Akhirnya akupun beli bawang merah dengan harga sepuluh ribu. Aku mendapatkan 6 bungkus bawang. Yah... itung-itung oleh-oleh. Di Brebes, banci yang keempatpun datang. Aku ingat banget suara baci itu. Yah, dia adalah banci yang pernah naik di kereta yang sama saat aku pulang liburan UAS pas TPB. Banci kali ini sangat baik. Dengan gaya menelnya, diapun mulai menggoda kami. Hah,, sungguh keunikan tersendiri saat naik kereta ekonomi. 
Hujan mulai turun. Sangat deras. Tak berapa lami, kami sampai di sebuah tempat yang sangat indah. Kami melihat bnyak bukit-bukit hijau dan gunung yang menjulang tinggi. Kami juga melihat sungai yang melintas indah di bawah rel kereta api. Kami juga melihat terasiring sawah-sawah warga yang tertata indah. Waaaahhhh... benar-benar indah. Temanku Tian, yang notabene anak ARL, mulai berkata,' Seandainya anak-anak ARL nai kereta ini dan melihatnya, pasti mereka akan berdecap kagum. Aku pengin kesini dan menjelajahi seluruh daerah ini.'
Memanag sangat indah. Mastha tak lupa mengabadikan momen ini. Kalau teman-teman lewat tempat ini, kalian pasti akan mengucapkan kata-kata yang sama 'Subhanallah'.
Okeh, tak berapa lama, keretapun smpai di Purwokerto. Artinya, perjalanan menuju rumahku tinggal 2 jam lagi. Hati mulai deg-degan ingin bertemau bapak dan mamak. Di sini, adalah sarangnya pengamen. Wahhh.. Tak berapa lama terdengar suara pengamen. Merdu banget but menyanyikan lagu suaranya. Pengamen tersebut menyanyikan lagu I'm Yours. Empukkkkk banget suaranya. Aku dan teman-teman sngat menikmati suara merdu mereka. Tak berapa lama, muncullah pengamen kedua. Pengamen kali ini adalah pasangan ibu dan anak. Waaahhhh... bagus banget suaranya. Tak berapa lama, ada penjual topi coboy. Hahahaha...akupun mulai mencoba topi tersebut dan berfoto. Hehehe...Kata teman-temanku, topi ini mirip topi Bapak Suwarto, Dosen AGH. Hehehe
Tak berapa lama, kereta pun sampai di stasiun Kutoarjo. Yaahhh,,, aku harus berpisah dengan teman-temanku. Sedih sih,,,tapi besokkan ketemu lagi di Bogor. Hehehe. Yang penting aku ingin bertemu Bapak dan Mamak di rumah. Dan akhirnya aku sampai di rumah sederhanaku. Aku disambut senyum gembira Bapak dan Mamak. Tapi aku sedih kala melihat keadaa rumahku ini. Atap rumahku pada bocor. Banyak ember berserakan di lantai. Saat aku menuju dapur, aku lebih sedih. Dapur rumahku ini banjir oleh air hujan. Ingin rasanya aku memperbaikinya, tapi belum kesampaian juga. Besok dah, Bapak dan Mamak, aku pasti memperbaikinya.


Sabtu, 07 Januari 2012

Monster Name Tag

Akhirnya aku nulis lagi di blog sederhanaku ini. Di sela-sela belajar gentan yang membuat puyeng kepalaku dan bikin mual perutku. hahaha,,, sedikit lebay. Inilah gaya aku.
Yah, itu hari Sabtu. Hari itu aku melaksanakan ujian  dua kali sehari, tapi ini bukan minum obat. Pit (pengantar ilmu tidur),,,eh pengantar ilmu tanah dan Daskom.
Aku cerita mulai dari malam sabtu sebelum ujian. Aku mulai sibuk dengan slide PIT ku dan biku Daskomku yang amat tebel. Aku mulai baca lembar demi lembar slide PIT dan akhirnya titik kejenuhan itu pun muncul. Ku buang jauh-jauh slide PIT dari hadapanku dan mulai kubuka buku tebal berwarna pink (yang sebenarnya berwarna hijau), itu adalah buku aspal dari buku yang sebenarnya yang dijual di gramedia 'Bara' amping tukang gorengan Berlin. Yah aku baca kalimat demi kalimat. Ada beberapa kalimat dan kata-kata yang menurut temen saya agak jorok. Tetapi, kata-kata dalam buku tersebut sangat menrai bagi aku. Contohnya tahap pengikatan menurut Knapp: memulai-penjajagan-penggiatan-pengintegrasian-dan pengikatan. Hal itulah yang berhubungan dengan masalah Pendekatan. Tahap-tahap itu juga berhubungan dengan Pengungkapan diri. yah sudahlah, pusing aku sama Daskom. Tapi seru juga baca buku ini,, hehehe... sekalian cari cari informasi tentang berbagai hal berkomunikasi dengan orang lain.
Yah sudah,, karena aku capek aku memulai untuk tidur.
Keesokan harinya, adalah hari yang ditunggu. Aku masuk ke GWW dengan wajah imutku ini sendirian, walaupun diwitu banyak orang. Karena aku telat masuk ke GWW, dapetlah aku duduk paling depan kedua. Tak apalah, yag penting nyaman. Waktupun mulai berjalan. Ketika seluruh peserta ujian duduk, terdengarlah suar cempreng dari atas panggung. Aku mulai mencari sumber suara itu da ternyata dia adalah 'Monster Name Tag', ada juga yang bilang 'Nenek Lampir'. Aku sebut Monster name tag soalnya setiap kali praktikum PIT dia selalu mencari para mahasiswa yang tidak memakai name tag. Aku terus pandangi dia. Hahaha... Wah, sudah sekitar 30 menit waktu berjalan. Tiba-tiba ada sesosok wanita datang di depanku. Tidaaaakkkk.... Dia adalah sang monster. Haduh-haduh... gandeng baget tuh monster. Terus bawel di tengah-tengah ketegangan para mahasiswa. Tak berhenti-hentinya bercerita ngalor ngidul dengan Pak Budi (nama dosen PIT). Gilaaa...ketawanya menggelegar membuat GWW runtuh.
hahhaa...Lebay banget aku ini. Terus kupandangi dia di kala ujian hari itu. Bibirnya yang merah merekah dan matanya yang melotot tajam terus mengawasi mahasiswa. Tak ada satupun yang dapat melakukan aksinya karena sang Moster terus mengawasi.
okehhh...ini cerita gaje aku saat UAS. Maaf yah, memang monster ni tidak bisa ditakhlukkan jadi WASPADALAH-WASPADALAH....
Hahahahaah

Sabtu, 31 Desember 2011

Pas Akhir Tahun 2011

Akhirnya, aku ketikan lagi segala apa yang ada di pikiran aku pagi ini, 1 Januari 2011. Aku baru tersadar pagi itu, kalu begitu bodohnya aku dan begitu mudahnya manusia untuk melampiaskan rasa senang yang berlebihan pada segala yang ada di dunia ini.
Aku awali dari sore hari, 31 Desember 2011, sekitar pukul 19.00. Aku merasa terganggu dengan suara berisik warga, sepeda motor, dan kendaraan lain yang mengeluarkan carbon monoksida di jalan depan kosanku. Aku mulai berpikir, sedang terjadi apakah di luar sana? Aku baru tersadar kalau hari itu adalah hari terakhir di tahun 2011. Mungkin mereka ingin merayakannya di luar sana. Aku mencoba keluar dari pintu kamar kosku dan mulai berjalan di sepanjang jalan sekitar Bateng-Bara. Ramai suara motor dan mobil, terompet, petasan, dan kembang api. Ada juga bau asap sang penjual jagung bakar di samping pintu Berlin. Aku lihat penjual itu mulai dari tadi pagi sampai malam duduk disana berdua dengan sang anak yang usianya kurang lebih 7 tahun. Aku lanjutkan lagi kaki ini untuk melangkah menuju Alfamidi. Aku hanya membeli sebuah es krim kesukaanku dikala aku sendiri. Di sana, kulihat beberapa bahkan banyak orang memborong soft drink, cemilan, kue, dan minuman bersoda lain. Aku tanya pada salah seorang dari mereka, buat apa mereka membeli makanan sebanyak itu? Dijawablah oleh seorang sahabatku, buat begadang peringatan tahun baru katanya. Oh, aku mulai berpikir lagi, seumur hidup aku belum pernah merayakan tahun baru, aku hanya melihat petasan yang dibunyikan oleh tetanggaku di kampung sana. Aku keluar dari Alfamidi dan bertemulah aku dengan sahabatku. Aku diajak ke atas gedung di IPB. Di sana aku makan bareng sahabatku itu. Ini adalah pertama kalinya aku makan besar di malam tahun baru. Aku menyulut kembang api yang diberikan sahabatku itu. Di tengah perjalanan, aku merasa ada sesuatu yang seharusnya tidak boleh aku tinggalkan, yaitu belajar. Aku mulai tersadar kalu aku harus meninggalkan sahabatku itu. Aku pergi meninggalkan sahatku itu dengan berbagai alasan. Aku kembali menyusuri jalan Bara. Bertemulah aku dengan sabatku lagi yang tengah makan di depan telkom. Aku hanya terdiam begitu juga sahabatku itu. Di lamunanku itu, aku berpikir banyak para perempuan-perempuan yang sudah balig yang memakai pakaian yang tak selayaknya dipakai. Mereka memamerkan sebagian dari tubuhnya. Dan aku mulai berpikir lagi, itu sanagt buruk bagi citra kami, para perempuan. Aku merasa risih dengan pakaian ketat, celana pendek, dan pakaian yang hanya menutupi sedikit dari dada mereka. Akupun langsung beranjak dari tempat duduku itu menuju kost. Aku mulai merebahkan badanku ini di lantai kamarku. Aku pun mulai melamun lagi. Kalau motor dan mobil itu adalah penyumbang carbon monoksida yang sangat berbahaya dan carbon dioksida, kertas petasan dan terompet merupakan hasil olahan kayu hutan dan kita adalah salah satu dari orang yang merusak hutan secara tidak langsung, kita adalah sumber kemacetan jikalau kita ,elakukan perjalanan di jalan raya dan menambah beban polisi, kita sebagai penyumbang polutan sampah anorgaik. Akankah kita akan menjadi salah satu orang yang membuat bobrok bangsa ini? Di tengah lamunanku,, aku mendengar suara berisik itu lagi muncul. Ternyata suara petasan dari tetangga. aku mulai beranjak menuju lantai tiga kosanku. Aku melihat keindahan kota Bogor. Tapi, aku juga mulai resah. Berapa uang yang mereka habiska demi petasan dan kembang api tersebut Dan apakah esensi dari itu semua? Aku mulai membuka Facebookku yang telah lama tinggalkan. Terlihat banyak status "Happy New Year", aku juga mulai bingung. Aku juga mendapatak SMS Selamat Tahun Baru. Sebenarnya, apa sih yang mereka lakukan? Cobalah berpikir ketika tahun baru Hijriah, apakah kita merayakannya? Kalau ada perayaan Tahun baru Hijriah, apakah kita mengikutinya? Apakah kita akan berubah menjadi yang lebih baik? Apakah kita menyalakan petasan dan kembang api? Apakah kita membuat sebuah permohonan? Atukah kita lupa akan adanya tahun baru Hijriah?
Ya Allah,,,, Betapa bodohnya aku ini sebagai umat-Mu. Aku belum tersadar akan itu semua. Aku merasa tak ada guna. Aku belum bisa membedakannya, dan masih banyak kesalahan-kesalahan yang telah aku perbuat.
Maaf, ini hanyalah tulisan manusia biasa. Aku hanya menulis apa yang aku pikirkan. Hheeee....

Rabu, 28 Desember 2011

Perjalanan Panjang Menuju Cikabayan

Pagi-pagi aku berjalan sendirian menuju Kebun Percobaan Cikabayan. Aku datang dari arah Babakan tengah alias Bateng tempat aku kost. Aku buru-buru menuju Cikabayan soalnya waktu telah menunjukkan pukul 08.00. Aku percepat langkah kaki ini menuju berlin. Setelah Berlin sampai juga aku di depan Faperta. Tapi apa yang aku lihat pagi itu? Jalan becek, licin, dan rusak di sepanjang Faperta sampai tanjakan FMIPA. Aku berdiri sejenak di bawah pohon besar di dekat area parkir para dosen Faperta. Aku melihat para pekerja yang sedang menggali lubang disana. Katanya sih, mau ada pelebaran jalan. Tapi yang aku sedihkan tak ada lagi pohon besar yang menaungi jalan di tanjakan FMIPA. Tapi, mungkin itu merupakan keputusan terbaik dari pihak kampus dan para kontraktor yang telah merencanakan sebuah tempat yang megah dan indah. 
Aku kembali berjalan naik menuju tanjakan FMIPA. Sebelum naik tanjakan, terdapat tulisan 'Maaf, jalan ditutup'. Aku mulai resah kala aku berjalan di jalan tersebut. Licin dan lengket, selain itu banyak kerikil yang berjatuhan di sepanjang jalan, banyak ranting dan kayu pohon bekas ditebang yang masih berserakan. Ya sudahlah, munkin memang belum dibersihkan. Aku lanjutkan perjalananku ini. Di depan Gymnasium, yang dulunya teduh oleh pohon karet, sekarang tinggal beberapa pohon saja. Pohon karet yang menjulang tinggi, terlihat berserakan di sepanjang jalan. Yah, mungkin konsekuensi sebuah pembangunan. Aku lanjutkan l;agi perjalananku. Aku sekarang tiba di depan pintu asrama TPB IPB. Aku lihat, asrama tampak sepi karena mungkin penghuninya pulang ke rumah sebelum UAS semester ganjil dilaksanakan. Aku berjalan lagi, dan terdengarlah suara para kontraktor yang sedang berdiskusi masalah pembangunan  gedung baru di dekat asrama,aku lupa namanya. Terdengar mereka menggunakan bahasa Jawa. Hah, aku sejenak berpikir, ternyata orang Jawa itu hebat. Dikala lamunanku itu, aku menginjak adonan semen di tengah jalan. Hah, tidaaakk.. Aku berteriak dalam hati. Sandal jepit warna biruku masuk ke dalam adonan semen. Para kontraktor pun melihat tingkah anehku ini. Malu sih, tapi tak apalah. Setelah aku ambil sandalku dari adinan semen itu, aku berlari menuju jalan Fahutan. Di sepanjang jalan Fahutan, aku melihat jajaran truk terpakir di sana. Terlihat juga para sopir yang tertidur pulas di dalam truk. Huh, banyak banget truknya. Aku kembali berjalan. Sampailah aku di jalan Fahutan dekat Gedung Toyib. Kembali aku melihat pemandangan yang sama, jalan becek, banyak lumpur, kerikil, dan agak sedikit rusak. Aku berjalan kembali menyusuri jalan becek itu. Lagi-lagi aku terpeleset di sana. Dalam hati kecilku, untung gak ada orang,hehe.... Aku kembali berjalan melewati jalan Fahutan. Tampak sepi hari itu. Akhirnya, tibalah aku di depan Al Hurriyah. Lagi-lagi, terlihat jalan becek dan banyak kerikil. Aku mulai berhati-hati, jangan sampai sandal aku terjebak di dalam jalan becek itu. Akhirnya, setelah melewati jalan yang becek, penuh kerikil dan berliku ini, aku merasa lega. Haha... Tapi, kakiku sangat kotor oleh lumpur sialan ini. Tapi, aku berpikir kembali, Ya Allah, aku kan sedang di depan masjid, aku gak boleh berpikiran kayak gitu. Pikiran sok alim itupun keluar. Beberpa menit kemudian, akhirnya aku sampai di Kebun Percobaan Cikabayan. Rasa lega  ini pun muncul. Tapi, bagaimana nasib aku pas pulang dari Cikabayan nanti yah???  Hah, semoga tak sial lagi. Haha....

Maaf, belum sempat UPLOAD foto-foto gajenya....

Senin, 26 Desember 2011

Film Ku, Juara II Film Advokasi, TPB Bersuara

Maaf, Temanku

Gak tau kenapa aku ingin menulis di blog sederhanaku ini, kala waktu menunjukkan pukul 01.10 pagi. Ditemani buku Klimatologi dan suara lembut dari piano, aku ketikkan kebimbangan yang tengah aku alami. 
Tak kusadari, umurku lambat laun terus berkurang, dan mungkin hidupku akan menjadi lebih rumit. Entah apa yang aku pikirkan kala itu. Aku terpaku pada sebuah foto yang aku jadikan background di notebook aku ini. rasanya aku ingin menangis melihat foto itu. Tapi aku terus berpikir, dosakah aku bila aku memandang foto ini? Ingin aku ceritakan kebimbangan aku ini pada Ibu. Tetapi, jaraklah yang memisahkan kami berdua. Aku terus berpikir bagaimana cara menghilangkan bayang-bayang wajahnya itu dari pikiran kotorku ini. Dan akhirnya, aku menemukan jawaban kecil, KLIMATOLOGI. Aku mencoba melupakannya lewat buku klimatologi. Tapi, aku malah teringat wajah seseorang di foto itu, kala kuliah klimatologi. Ah... aku gak boleh gini, kataku dalam hati kecil ini. Tetapi, apakah aku bisa melupakan wajah di foto itu?
Saat kesendirianku, seseorang itu selalu datang dengan wajah juteknya. Mungkin, itulah yang membuat aku selalu terbayang oleh wajahnya. Saat aku kesel, seseorang itu selalu menambah rasa kesal itu, tetapi aku suka. Beda dengan orang lain, kala aku kesel, ditambah datangnya orang lain, membuat aku tambah kesel.Aku gak tau kenapa aku bisa, padahal aku....
Aku terus mencari solusinya, dan ternyata seseorang itu punya pikiran sama. Kadang aku terlalu egois untuk meniali sikap orang itu. Aku terlalu sok tau dan menggurui, kalau dia itu sangat tak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Tapi itu semua salah kala orang itu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku baru tahu kalau dia itu lebih tua dibandingkan aku. Dia berhenti sejenak dari rutinitas pendidikan untuk mencari tambahan kuliah. Tak kusangka, betapa dewasanya pemikiran dia. Aku terlalu manja dikala dia ada disampingku hingga akhirnya aku merasa malu dan sangat kurang dari orang itu. Aku terlalu cepat menilai orang, aku terlalu mudah untuk mengatakan dia jahat dan dia amat buruk.

Maafkan aku teman, mungkin kamu tak tahu ini semua. Kadang aku mengatakan hal-hal buruk darimu. Aku terlalu sering menganggapmu jahat dan amat buruk. Tapi itu sungguh karena aku peduli kamu dan aku gak ingin kamu melakukan hal yang sama pada kawanmu yang lain, dan aku gak ingin kamu melihat teman-temanmu kecewa dengan sikapmu selama ini. Aku sayang kamu sebagai teman.

Sahabatku, Bunga

Kutuliskan cerita ini sesaat setelah aku makan bubur kacang hijau Madura di depan Telkom, Bara. Awal cerita, aku bertemu dengan dua orang sahabatku, Budi dan Asep. Kami berpapasan saat aku buka pintu pagar kosanku. Aku hanya bilang'hai' pada mereka. Memang mungkin Allah akan mempertemukan kami kembali. Saat aku tiba di ATM BNI, aku kembali bertemu mereka. Aku lihat Asep sedang bercanda denga seorang anak kecil cantik yang belum aku tahu siapa namanya dan Budi yang sedang keluar dari ATM. Tak berapa lama, aku mengambil uang yah hanya cukup untuk makan (hahaha...agak puitis). Aku mulai ngobrol-ngobrol gak jelas, mulai dari kuliah, belajar, kakao, dan urusan cewek. Hahaha... emang cowok-cowok gak jelas. Setelah agak lama ngorol, Asep mengajak kami untuk makan. Yah, awalnya aku takut gendut tapi tak apalah, aku laper sih. Setelah berjalan beberapa langkah, akhirnya kami sampai juga di bubur kacang hijau Madura. Sambil terus ngobrol. Biasanya cewek yah yang cerewet, ini malah cowok yang cerewet dan bawel banget. Tapi seru sih.hehe. Tak kusangka, kedua sahabatku ini suka pada orang yang sama. Dia adalah sahabatku juga, sebut saja Bunga (kayak korban kejahatan). 
Bunga adalah seorang wanita cantik, baik, dan menurut aku dia adalah wanita ideal yang cocok dijadikan seorang isteri. Tapi ada satu yang kurang dari dia, kurang pandai masak. Tapi tak apalah, nanti dia pasti akan beljar juga kok. Lanjut lagi, dia itu pintar dan periang orangnya, ramah, dan sangat disegani oleh orang-orang disekitarnya. Awal aku kenal dia, aku kira dia anaknya serius, tapi ternyata dia camen (cacat mental) juga. Aku sering banget jalan sama dia. Banyak orang-orang yang bertanya sama aku, apakah dia udah punya pacar? Aku tak berani menjawabnya. Tapi aku yakinkan sekali lagi, dia itu wanita yang......
Asep dan Budi terus-terusan bertanya padaku tentang Bunga. Tapi yah aku jawab sebisanya aja. Sampai-sampai Asep bilang, aku akan berusaha demi Bunga. Begitu juga Budi, dia ingin seorang isteri yang seperti Bunga. Yah, mungkin itulah pikiran-pikiran para cowok. Kami juga sempat bercanda, kalau Asep pilih Bunga, mau diapain nati Mbak Yul? Kalau Budi, nanti si Mbak X juga dikemnain? Hahaha....Aneh banget mereka. 
Tapi aku jujur, ini dari hatiku yang paling dalam. Banyak cowok yang menitipkan salamnya untuk Bunga. Dan aku berharap, Bunga akan mendapatkan yang terbaik karena aku yakin Bunga memang wanita hebat di mataku.

Itulah seorang sahabatku, Bunga.